Home Dalam Negeri Sejarah Malam 1 Suro Yang Jarang Diketahui

Sejarah Malam 1 Suro Yang Jarang Diketahui

148
0
Sejarah Malam 1 Suro Yang Jarang Diketahui
Sejarah Malam 1 Suro Yang Jarang Diketahui

SMARTLAPAK.COM – Sejarah Malam 1 Suro Yang Jarang Diketahui Diketahui apabila pada hari ini jumat 29 Juli bertepatan dengan 1 Suro dan bertepatan dengan tahun baru Islam 1444H di mana di tanah Jawa pada malam satu suro sangat dipercaya sebagai malam yang sakral dan juga penting terutama menjadi awal untuk penanggalan kalender Jawa. Ternyata ada Sejarah Malam 1 Suro yang pastinya banyak yang tidak tahu dan pada postingan kali ini kami akan membedah nya untuk anda semua.

Sejarah Malam 1 Suro yang akan kami bahas di ambil dari berbagai sumber di internet dan harus anda ketahui apabila malam tersebut menjadi malam pertanda awal bulan pertama untuk penanggalan kalender Jawa dan untuk kali ini bertepatan dengan 1 Muharram untuk penanggalan kalender Hijriyah atau kalender Islam.

Sejarah Malam 1 Suro

Seperti dikutip dari berbagai sumber di internet apabila Malam Satu Suro yang bertepatan dengan tanggal 1 Muharram mempunyai sejarah yang sangat kental di mana untuk 1 Muharram ditetapkan sebagai awal penanggalan kalender Hijriyah atau kalender Islam yang pertama kali dipakai oleh Khalifah Umar Bin Khattab.

Berbeda dengan penanggalan Malam Satu Suro yang diambil dari kata Asyura dari bahasa Arab yaitu dipakai sebagai awal penanggalan kalender Jawa dan konon untuk memperkenalkan Kalian Islam di kalangan masyarakat Jawa tepat di tahun 931 Hijriyah atau 1443 untuk tahun Jawa yaitu di zaman pemerintahan Kerajaan Demak.

Pada waktu itu Sunan Giri 2 sudah membuat penyesuaian antara sistem kalender Hijriyah dengan sistem kalender Jawa di masa tersebut dan waktu itu Sultan Agung mengharapkan adanya persatuan masyarakat untuk menggempur Belanda di Batavia termasuk dirinya ingin menyatukan Pulau Jawa.

Salah satu trik yang dipakai oleh Sultan Agung hanyokrokusumo yaitu memulai menggunakan penanggalan untuk masyarakat Jawa yang menggabungkan antara Islam dan Hindu dengan tujuan tidak ingin supaya rakyatnya terpecah belah perbedaan masalah keyakinan agama.

Sultan Agung hanyokrokusumo saat itu ingin menyatukan kelompok dan abangan dimana kelompok santri adalah kelompok putih dan selanjutnya kelompok abangan dikenal sebagai Islam kejawen.

Pada setiap hari Jumat Legi dilakukan laporan pemerintahan setempat sambil melakukan pengajian yang dilakukan para penghulu kabupaten dan dilakukan ziarah kubur dan juga peringatan Haul ke makam Sunan Ampel dan makam Giri.

Sehingga bisa disimpulkan apabila satu Muharam atau satu Suro dalam penanggalan Jawa dimulai pada hari Jumat Legi yang juga dianggap sangat keramat malahan di beberapa wilayah dianggap sial kalau ada orang yang memanfaatkan hari tersebut diluar kepentingan mengaji ziarah dan haul sehingga ada pelarangan untuk merayakan pindah rumah, merayakan pernikahan, dan lain sebagainya.

Previous article4 Mitos Malam 1 Suro Yang Dipercaya Sampai Sekarang
Next articleAzərbaycanda rəsmi say

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here